4. Penjajahan Fisik Berakhir, Penjajahan Mental Harus Diakhiri
Penjajahan fisik relatif mudah dikenali karena terdapat penguasa dan yang dikuasai. Akan tetapi, penjajahan mental jauh lebih sulit dideteksi karena penjajahnya dapat berada di luar diri, bahkan dapat bersemayam dalam pikiran manusia sendiri.
Seseorang dapat hidup di negara merdeka tetapi berpikir sebagai manusia yang tidak merdeka. Ia merasa tidak mampu, tidak percaya diri, selalu menunggu arahan, takut mengambil keputusan, dan menganggap bangsa lain selalu lebih unggul.
Inilah yang oleh Paulo Freire disebut sebagai bentuk kesadaran yang terbelenggu dalam konteks pendidikan dan relasi sosial. Pendidikan seharusnya membantu manusia menjadi subjek yang mampu memahami realitas dan mengubahnya, bukan sekadar menerima keadaan (Freire, 1970).
Karena itu, pendidikan nasional harus menjadi instrumen pembebasan, bukan sekadar menghasilkan manusia yang memiliki ijazah. Pendidikan harus melahirkan manusia yang beriman, berilmu, kritis, kreatif, produktif, mandiri, berkarakter, dan bertanggung jawab.
5. Kemerdekaan dalam Perspektif Tauhid
Dalam perspektif Islam, akar kemerdekaan manusia adalah tauhid.
Kalimat la ilaha illallah bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan deklarasi pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah.
Allah SWT berfirman:
أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
“Janganlah kamu menyembah selain Dia” (QS. Yusuf [12]: 40).
Tauhid membentuk manusia yang memiliki keteguhan jiwa. Ia tidak menjadikan manusia lain sebagai objek penghambaan, tidak mempertuhankan jabatan, kekayaan, kekuasaan, popularitas, maupun kepentingan politik. Karena itu, seorang Muslim yang benar-benar memahami tauhid seharusnya memiliki mentalitas merdeka, tetapi tetap memiliki batas moral dan hukum Allah.
Kemerdekaan dalam Islam bukan liberty without responsibility, melainkan kebebasan yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
6. Kemerdekaan dan Berdikari
Kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi akan menghasilkan ketergantungan. Karena itu, pembangunan bangsa harus diarahkan kepada kedaulatan pangan, energi, teknologi, industri, pendidikan, dan ekonomi.
Konsep berdikari yang pernah dikemukakan dalam sejarah politik Indonesia memiliki relevansi yang besar hingga sekarang. Bangsa yang besar bukan bangsa yang menutup diri dari dunia, tetapi bangsa yang mampu berinteraksi dengan dunia secara setara.
Dalam konteks ekonomi Islam, prinsip tersebut sejalan dengan dorongan untuk bekerja, berusaha, mengembangkan produktivitas, dan tidak membangun kehidupan di atas ketergantungan yang tidak sehat.
Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin…”
(QS. At-Taubah [9]: 105).
Dengan demikian, kemerdekaan harus menghasilkan produktivitas. Bangsa yang merdeka bukan bangsa yang hanya pandai merayakan kemerdekaan, tetapi bangsa yang mampu mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata.
