Merdeka dari Ketergantungan terhadap Dunia

Merdeka dari Ketergantungan terhadap Dunia
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I.
Korp Mubaligh Muhammadiyah PDM Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Bangsa Indonesia baru saja merayakan hari kemerdekaanya yang ke 81 tahun. Euforia perayaan hari kemerdekaan tersebut masih terasa hingga kini. Baik di kota kota besar hingga pelosok perdesaan. Bangsa Indonesia merayakannya dengan beragam cara dan acara. Mulai dari konser besar bertajuk “konser kemerdekaan”, aneka perlombaan atau bahkan hanya sekedar “tumpengan” sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas kenikmatan kemerdekaan.

Secara umum, merdeka berarti bebas dari penjajahan bangsa lain. Bangsa yang merdeka memiliki kedaulatan penuh atas negaranya sendiri. Dengan kedaulatan tersebut berarti bebas untuk mengatur dan menetukan nasib bangsanya sendiri dengan segala potensi yang dimilikinya baik sumber saya alam maupun sumber daya manusianya.

Dalam perseptif Islam, merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan secara fisik, melainkan terbebasnya jiwa manusia dari perbudakan materi, hawa nafsu, dan gemerlap pernak-pernik dunia. Di era modern ini, kecenderungan manusia untuk mengukur kebahagiaan berdasarkan kepemilikan harta, status sosial, dan gaya hidup semakin dominan. Fenomena hedonisme dan materialisme sering kali membelenggu batin, membuat manusia merasa selalu kurang dan lupa akan tujuan utama diciptakannya di muka bumi.

Islam tidak melarang umatnya untuk memiliki harta atau menikmati keindahan dunia. Namun, Islam mengajarkan agar dunia berada di genggaman tangan, bukan di dalam hati. Ketika pernak-pernik dunia menguasai hati, ia akan menjadi penjara yang menyiksa jiwa.

Allah SWT menggambarkan sifat kehidupan dunia yang sementara dan sarana penguji bagi manusia dalam Al-Qur’an:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya: “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang menumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran: 14).

Keindahan harta dan fasilitas dunia kerap membuat manusia terlena hingga mengabaikan kehidupan akhirat yang abadi. Allah SWT memperingatkan hakikat dunia yang penuh tipu daya sebagimana firman-Nya:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Al-Hadid: 20)

Untuk melepaskan diri dari cengkeraman materialisme, seorang muslim perlu menanamkan sifat zuhud (tidak terikat pada dunia) dan qana’ah (merasa cukup atas pemberian Allah). Zuhud bukan berarti harus hidup miskin dan meninggalkan seluruh aktivitas duniawi, melainkan kemampuan menjaga hati agar tidak bergantung pada selain Allah.

Rasulullah SAW memberikan resep terbaik untuk mencapai kekayaan hakiki yang bermula dari ketenangan jiwa sebagaimana sabdanya:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya: “Kaya itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, melainkan kaya itu adalah kayanya jiwa (merasa cukup).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika seseorang berhasil memerdekakan jiwanya dari syahwat duniawi, Allah SWT akan memberikan kemudahan dalam segala urusannya dan mendatangkan kedamaian batin.

Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, menyatukan urusannya yang terpecah, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya.” (HR. Tirmidzi).

Ada beberapa cara agar terbebas dari ketergantungan terhadap dunia;

1) mengingat kematian dan kehidupan akhirat. Menyadari bahwa segala kepemilikan materi akan ditinggalkan dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

2) memperbaiki skala prioritas, yaitu menggunakan harta dan potensi duniawi sebagai sarana.

3) ibadah dan bekal menuju akhirat, bukan sebagai tujuan akhir.

4) mengembangkan sikap qana’ah dengan melatih diri untuk selalu bersyukur atas rezeki yang ada dan tidak selalu membandingkan diri dengan standar hidup orang lain.

5) meningkatkan kepedulian sosial sebagai upaya mengikis sifat kikir dan serakah dengan memperbanyak sedekah, infak, dan zakat.

Membebaskan diri dari jeratan pernak-pernik dunia merupakan perjuangan seumur hidup. Kemerdekaan sejati tercapai ketika hati sepenuhnya terikat kepada sang Pencipta, sementara dunia hanya berada di tangan sebagai alat untuk meraih ridha-Nya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang merdeka dari jeratan dunia. Selalu memfokuskan kegiatannya hanya semata-mata karena Allah SWT. Semoga! (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search