Muharram: Ketika Seremoni Mengalahkan Substansi

Muharram: Ketika Seremoni Mengalahkan Substansi
*) Oleh : Oktafiyan Hilal Akmal
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya
www.majelistabligh.id -

Setiap datangnya Muharram, umat Islam menyambut tahun baru Hijriah dengan berbagai kegiatan. Mimbar-mimbar dipenuhi seruan hijrah, media sosial dipadati ucapan selamat tahun baru Islam, dan beragam acara digelar atas nama syiar agama. Namun di tengah semarak tersebut, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: apakah umat Islam sedang menghidupkan ajaran Muharram atau justru lebih sibuk merayakan simbol-simbolnya?

Pertanyaan ini menjadi penting karena Islam tidak dibangun di atas semangat seremonial, melainkan di atas ketaatan kepada wahyu dan keteladanan Rasulullah SAW. Ukuran keberagamaan bukanlah seberapa meriah suatu perayaan dilaksanakan, tetapi sejauh mana kehidupan seorang muslim semakin dekat dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.

Ironisnya, tidak sedikit umat yang mengetahui datangnya tahun baru Hijriah, tetapi melupakan amalan yang secara jelas diajarkan Rasulullah SAW pada bulan Muharram, yaitu puasa Tasu’a dan Asyura. Padahal kedua puasa sunnah tersebut memiliki dasar yang kuat dalam hadis serta mengandung pesan keimanan yang mendalam. Puasa Asyura berakar pada peristiwa penyelamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kezaliman Fir’aun, yang kemudian dijadikan momentum syukur kepada Allah SWT. Rasulullah SAW tidak hanya mengakui nilai peristiwa tersebut, tetapi juga menghidupkannya melalui ibadah puasa.

Lebih dari itu, Rasulullah SAW menunjukkan sebuah prinsip penting dalam beragama. Ketika mengetahui bahwa kaum Yahudi juga mengagungkan tanggal 10 Muharram, beliau berkeinginan menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram sebagai pembeda identitas umat Islam. Prinsip ini menunjukkan bahwa Islam menghargai sejarah dan menghormati para nabi terdahulu, tetapi tetap memiliki identitas, karakter, dan tuntunan yang khas.

Di sinilah relevansi tajdid Muhammadiyah menemukan maknanya. Tajdid bukan sekadar pembaruan dalam pengertian modernisasi, melainkan usaha terus-menerus untuk mengembalikan kehidupan umat kepada kemurnian ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Tajdid mengajak umat untuk membedakan antara ajaran agama dan kebiasaan yang selama ini dianggap bagian dari agama padahal tidak memiliki landasan yang memadai.

Karena itu, Muharram seharusnya menjadi momentum evaluasi terhadap cara beragama yang semakin berorientasi pada simbol dan kemeriahan. Ketika ukuran keberhasilan syiar hanya dilihat dari banyaknya peserta, ramainya acara, atau viralnya suatu kegiatan, terdapat risiko bahwa substansi ajaran justru terlupakan. Agama perlahan berubah menjadi peristiwa tahunan yang dirayakan, bukan nilai yang mengubah kehidupan.

Fenomena tersebut sesungguhnya merupakan tantangan besar bagi umat Islam kontemporer. Di era digital, simbol keagamaan dapat tersebar dengan sangat cepat, tetapi pemahaman keagamaan tidak selalu tumbuh dengan kualitas yang sama. Akibatnya, masyarakat mudah tersentuh oleh hal-hal yang bersifat emosional dan seremonial, tetapi kurang tertarik mendalami ajaran yang bersifat ilmiah, argumentatif, dan berbasis dalil.

Padahal tujuan Islam jauh lebih besar daripada sekadar menciptakan keramaian keagamaan. Islam hadir untuk membentuk manusia yang bertauhid, berakhlak, berilmu, dan mampu menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Sejalan dengan tujuan Muhammadiyah, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, setiap momentum keagamaan semestinya diarahkan untuk memperkuat kualitas iman, memperbaiki akhlak, mencerdaskan kehidupan umat, dan membangun peradaban yang berkeadaban.

Dalam konteks tersebut, puasa Tasu’a dan Asyura tidak hanya mengajarkan ibadah personal, tetapi juga menghadirkan pelajaran peradaban. Kisah Nabi Musa AS mengingatkan bahwa kebenaran pada akhirnya akan mengalahkan kezaliman. Puasa mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, serta rasa syukur atas pertolongan Allah. Bahkan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa puasa Asyura menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu.

Muharram pada akhirnya bukanlah tentang seberapa meriah tahun baru Islam dirayakan, melainkan sejauh mana umat mampu melakukan hijrah pemikiran dan hijrah tindakan. Hijrah dari taklid menuju pemahaman, dari simbol menuju substansi, dari rutinitas menuju kesadaran, serta dari kebanggaan identitas menuju pengamalan nilai-nilai Islam yang nyata.

Jika semangat ini dapat dihidupkan, Muharram tidak hanya menjadi penanda pergantian kalender, tetapi menjadi titik awal lahirnya umat yang lebih berilmu, lebih kritis, lebih berkemajuan, dan lebih dekat kepada cita-cita terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search