Tujuh Naungan di Hari yang Tak Ada Naungan

Tujuh Naungan di Hari yang Tak Ada Naungan
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Di Padang Mahsyar, matahari didekatkan hingga hanya berjarak sangat dekat dari kepala manusia. Tidak ada pepohonan yang menaungi, tidak ada istana yang melindungi, tidak ada kekuasaan, harta, ataupun nama besar yang dapat menjadi tempat berlindung. Semua bayang-bayang dunia lenyap. Yang tersisa hanyalah naungan Allah bagi hamba-hamba yang dipilih-Nya.

Di sanalah tujuh golongan manusia memperoleh kemuliaan yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Yang pertama adalah pemimpin yang adil. Ia memandang jabatan sebagai amanah, bukan hak istimewa. Kekuasaan tidak menjadikannya angkuh, tetapi semakin takut kepada Allah. Ia adil dalam keputusan, adil kepada kawan maupun lawan, dan bahkan adil kepada dirinya sendiri. Ketika banyak orang menjadikan kekuasaan sebagai alat melayani kepentingan pribadi, ia menjadikannya sarana menegakkan kebenaran.

Yang kedua adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah. Masa mudanya tidak dihabiskan untuk mengejar kesenangan yang melalaikan. Di saat banyak orang berlomba membangun popularitas, ia justru membangun kedekatan dengan Allah. Masa mudanya menjadi ladang ilmu, amal, dan ketakwaan.

Yang ketiga adalah orang yang hatinya terpaut kepada masjid. Masjid bukan sekadar tempat singgah ketika waktu salat tiba, melainkan rumah bagi jiwanya. Dari masjid ia membawa cahaya ke dalam kehidupan: kejujuran dalam pekerjaan, amanah dalam tanggung jawab, serta kasih sayang di tengah keluarga dan masyarakat.

Yang keempat adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah. Pertemuan mereka dipersatukan oleh iman, bukan kepentingan. Persahabatan mereka tidak dibangun di atas manfaat dunia, tetapi di atas keinginan untuk saling menguatkan dalam kebaikan. Mereka berkumpul karena Allah dan berpisah pun karena Allah.

Yang kelima adalah lelaki yang menolak ajakan berzina dari perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, seraya berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah.” Ia membuktikan bahwa rasa takut kepada Allah lebih kuat daripada godaan syahwat. Di tengah dunia yang sering menganggap hawa nafsu sebagai kebebasan, ia memilih kemerdekaan sejati: mengendalikan dirinya demi ridha Allah.

Yang keenam adalah orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya. Ia tidak mencari tepuk tangan manusia, tidak mengejar pujian ataupun viralitas. Baginya, amal terbaik adalah yang hanya diketahui oleh Allah.

Yang ketujuh adalah orang yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian hingga kedua matanya meneteskan air mata. Di saat tidak ada seorang pun yang melihatnya, ia justru paling dekat dengan Rabb-nya. Air mata itu bukan tanda kelemahan, melainkan bukti hati yang masih hidup—hati yang takut akan dosa, berharap ampunan, dan merindukan perjumpaan dengan Allah.

Ketujuh golongan ini bukan sekadar daftar yang dihafalkan, melainkan potret manusia yang dibentuk oleh wahyu. Mereka bukan manusia tanpa dosa, tetapi manusia yang terus memilih jalan yang benar ketika jalan yang salah tampak lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Hari itu kelak tidak ada jabatan yang mampu melindungi, tidak ada harta yang dapat ditebuskan, dan tidak ada ketenaran yang dapat menyelamatkan. Yang bernilai hanyalah iman, ketakwaan, dan amal yang ikhlas.

Pertanyaannya bukanlah apakah kita mengagumi tujuh golongan itu. Pertanyaan yang lebih penting adalah: hari ini, langkah kita sedang menuju golongan yang mana?
JATINEGARA 3 Juli 2026.
#BuyaDarwis.

 

Tinggalkan Balasan

Search