6. Empat Ungkapan, Satu Etos Perjuangan
Jika dirumuskan, keempat ungkapan tersebut memiliki hubungan yang sistematis: Dakwah harga mati → menunjukkan komitmen. Mati-matian dalam berdakwah → menunjukkan kesungguhan dan pengorbanan. Berdakwah sampai mati → menunjukkan istiqamah dan kontinuitas. Mati dalam berdakwah → menunjukkan orientasi husnul khatimah.
Dengan demikian, dapat dirumuskan: Dakwah harga mati dalam prinsipnya, mati-matian dalam perjuangannya, berdakwah sampai akhir hayatnya, dan jika ajal menjemput, semoga mati dalam keadaan mengabdi kepada Allah dan umat. Inilah etos dakwah yang diperlukan umat pada zaman sekarang.
Dakwah tidak boleh mudah dibeli oleh kepentingan kekuasaan. Tidak boleh pula dikendalikan oleh kepentingan materi. Tidak boleh kehilangan keberanian karena tekanan. Namun dakwah juga tidak boleh berubah menjadi kemarahan, kebencian, kekerasan, atau tindakan yang keluar dari tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Keteguhan prinsip harus berjalan bersama hikmah. Keberanian harus berjalan bersama ilmu. Perjuangan harus berjalan bersama akhlak. Dan aktivitas dakwah harus berjalan bersama keikhlasan.
Penutup: Jangan Berhenti Berdakwah
Dunia terus berubah. Tantangan dakwah semakin kompleks. Kemajuan teknologi membawa peluang sekaligus ancaman. Informasi agama semakin mudah diperoleh, tetapi informasi yang keliru juga semakin mudah menyebar. Di tengah materialisme, hedonisme, individualisme, pragmatisme politik, krisis keteladanan, dan berbagai problem sosial, dakwah semakin membutuhkan manusia-manusia yang memiliki komitmen, kompetensi, integritas, dan keteladanan.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak bertanya: “Apa yang saya dapatkan dari dakwah?” Tetapi bertanya: “Apa yang sudah saya berikan untuk dakwah?” Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berdakwah. Tetapi teruslah memperbaiki diri agar dakwah yang disampaikan semakin benar, bijaksana, dan bermanfaat. Jangan berhenti berdakwah hanya karena usia bertambah. Jangan berhenti berdakwah hanya karena menghadapi tantangan. Jangan berhenti berdakwah hanya karena tidak mendapatkan penghargaan. Dan jangan menjadikan dakwah sebagai alat untuk mendapatkan dunia.
Dakwah harga mati. Mati-matian dalam berdakwah. Berdakwah sampai mati. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita husnul khatimah: mati dalam keadaan tetap berada di jalan pengabdian kepada-Nya. Sebab yang paling penting bukanlah berapa lama kita hidup, tetapi untuk apa kehidupan itu kita gunakan.
Daftar Pustaka
• Al-Bukhari, M. ibn Isma‘il. (n.d.). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.
• Al-Qur’an al-Karim.
• Al-Qurtubi, M. ibn Ahmad. (2006). Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an. Beirut: Mu’assasah al-Risalah.
• Ibn Kathir, I. ibn Umar. (1999). Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah.
• Muslim ibn al-Hajjaj. (n.d.). Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.
• Al-Sa‘di, A. ibn Nasir. (2000). Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan. Riyadh: Mu’assasah al-Risalah.
